Feeds:
Pos
Komentar

Banjir sebagai fenomena alam dapat merupakan / menciptakan petaka bagi manusia. Intervensi manusia terhadap alam kian memperbesar petaka yang terjadi akibat banjir. Kini, banjir sudah merupakan bagian dari fenomena global. Ketika banjir merupakan gejala alam, ia dengan tidak begitu sulit bisa diramalkan karena menjadi bagian dari siklus iklim, tetapi ketika ia menjadi fenomena global maka ramalan banjir dapat sering meleset.

Nah untuk lebih jelasnya silahkan download artikel dari bapak Abdul Hamid, H, Ir, M.Eng, Prof.

REKAYASA ANTISIPASI BENCANA BANJIR PONTIANAK

Persoalan infrastruktur sangat kompleks, melibatkan banyak disiplin ilmu. Masing-masing daerah bisa saja menghadapi persoalan yang berbeda. Namun ada sejumlah persoalan bersama yang dihadapi yang antara lain adalah …

Untuk lebih jelasnya silahkan download materi berikut ini :

Isu Pengembangan Infrastruktur

Materi Kuliah

Berikut kami tampilkan beberapa Materi Kuliah dari Prof. Ir. H. Abdul Hamid, M.Eng

1. Menulis Daftar Rujukan

2. Sumber Untuk Memperoleh Masalah

3. Materi Kuliah January 2006

4. Kita Perlu Selalu Pindah

5. Materi Kuliah February 2006

SAPAR BUKAN BULAN NAAS

Salah satu kepercayaan yang sampai kini masih dianut oleh (melekat dalam diri) sebagian umat Islam di tanah air, termasuk di daerah Kalimantan Barat (Kalbar) adalah tentang bulan Sapar yang diklaim sebagai bulan naas, bulan yang penuh kesialan. Klaim itu diantaranya dengan alasan bahwa kata Sapar berarti sejenis penyakit di dalam perut berbentuk ulat besar yang dapat membunuh.

Kepercayaan ini, berdasarkan beberapa sumber bacaan, sebenarnya sudah ada sejak zaman Jahiliyah. Ketika itu mereka menganggap bulan Sapar sebagai bulan yang sarat dengan kejelekan. Disamping itu mereka juga menganggap Rabu sebagai hari nahas, terlebih Rabu terakhir setiap bulan.

Mengapa Rabu terakhir bulan Sapar dianggap sial?

Menurut referensi klasik, bahwa Allah menurunkan 3333 penyakit pada bulan Sapar, dan hal itu bertepatan dengan Rabu terakhir. Bahkan, menurut Bapak H.Imam Supangat dalam Majelis Pengajian Salam Sabtu 26 Maret 2005 di Aula Masjid Raya Mujahidin Pontianak, pernah ada selebaran bohong yang mengaku dikutip dalam kitab Az-Zawajir karangan Ibnu Hajar al-Haitami, yang berisikan bahwa setiap Rabu akhir bulan Sapar turun 320.000 bala (penyakit). Sayangnya kepercayaan tentang Sapar sebagai bulan naas dan Rabu akhirnya sebagai hari naas sudah berlaku turun temurun sampai kini. Entah kapan kepercayaan ini akan sirna.

Dalam pandangan sebagian orang, Rabu terakhir bulan Sapar sangat menakutkan, penuh naas. Oleh karena itu tak heran jika kemudian ada orang yang melarang semua anggota keluarganya bepergian pada hari Rabu; pada hari itu cukup berdiam diri saja di rumah. Pada hari Rabu terakhir bulan Sapar mereka suruh / ajak keluarganya melakukan upara “buang-buang”, sebagai perwujudan dari buang naas atau buang sial.

Berkaitan dengan hal yang berbau tahayul ataupun mistik, termasuk kepercayaan tentang bulan Sapar dan hari Rabu itu, Nabi Muhammad saw ditulis pernah berdebat dengan orang Badui.

“Tidak ada penyakit menular dan tidak ada kepercayaan pada tahayul,” sabda Nabi Muhammad saw.

Badui berkata, “Lantas, bagaimana dengan unta yang sehat, kemudian sakit setelah didekati unta yang sakit?”

Nabi balas menjawab, “Lalu siapa yang menulari unta pertama?”

Perdebatan ini mengindikasikan bahwa kepercayaan seperti itu tidak ada dan tidak dibenarkan adanya menurut pandangan Islam.

Dalam HR al-Bukhari dan Muslim Rasul bersabda yang artinya “Tidak ada ‘adwa, thiyarah, hamah dan Sapar”.

Adapun ‘Adwa maksudnya penjangkitan atau penularan penyakit; Thiyarah yaitu merasa bernasib sial atau meramal nasib buruk karena melihat burung, binatang lainnya, atau apa saja, sedangkan Hamah maksudnya burung hantu, dan Sapar adalah bulan kedua dalam tahun Hijriyah, yaitu bulan sesudah Muharram.

Orang-orang jahiliyah beranggapan bahwa bulan Sapar itu membawa nasib sial atau tidak menguntungkan. Yang demikian dinyatakan tidak ada oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Termasuk dalam anggapan seperti ini adalah merasa bahwa hari Rabu mendatangkan sial, dll. Hal ini termasuk jenis thiyarah, dilarang dalam Islam.

Dalam al-Qur’an surah ke-7, al-A’raf, ayat 131 Allah swt berfirman :
……, WA MAN (M)-MA’AHU ALAA INNAMAA THAA-IRUHUM ‘INDALLAAHI WA LAAKINNA AKTSARAHUM LAA YA’ LAMUUN(A).
“Ketahuilah sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan dari mereka tidak mengetahui.”

Selanjutnya dalam surah ke-36,Yaasiin, ayat 19, Allah swt berfirman :
QAALUU THAA-IRUKUM-MA’AKUM A-INDZUKKIRTUM BAL ANTUM QAWMUN(M)-MUSRIFUUN(A).
“Mereka (para Rasul) berkata: “Kesialan / Kemalangan kamu itu adalah karena kamu sendiri. Apakah jika kamu diberi peringatan (kamu bernasib sial?). Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampaui batas.”.”

Dua Firman Allah swt di atas menunjukkan bahwa pada dasarnya musibah, naas, kecelakaan atau kemalangan itu sudah merupakan ketetapan Allah serta sebagai akibat dari perbuatan manusia sendiri: dirinya sendiri atau karena orang lain, juga karena proses yang terjadi di bumi / alam raya.

Islam tidak mengenal adanya hari atau bulan nahas, celaka, sial, malang dan yang sejenis. Yang ada hanyalah bahwa setiap hari dan atau bulan itu baik, bahkab dikenal hari mulai (Jum’at) dan bulan mulia (seperti bulan Ramadan, Syawal dan Dzulhijjah).

Dalam upaya meningkatkan keislaman, khususnya keimanan dan ketakwaan kita, kiranya perlu diyakini bahwa tidak ada hari atau bulan naas atau yang sejenisnya, yang adalah takdir yang dapat terjadi kapan saja, termasuk pada hari Rabu atau pada bulan Sapar. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari takdirNya.

Semuanya itu ada tujuan dan manfaatnya. Takdir Allah bukanlah harga mati, sebagaimana diasumsikan sebagian orang selama ini. Takdir masih bisa “ditawar”, tergantung bagaimana kita “merayu” Allah berdasarkan petunjukNya melalui al-Qur’an dan al-Hadis, antara lain dengan cara menjadikanNya sebagai Maula / Penolong, seraya berdoa agar dapat mengetuk pintu rahmat-Nya. Adapun merayakan Robo’-Robo’ pada Rabu terakhir bulan Sapar dengan berziarah, yasinan dan membaca tolak bala, tentu tak ada salahnya.

H. Abdul Hamid

KAPAN HARUS MARAH ?

Dikisahkah bahwa pada suatu hari Khalifah Umar al-Faruq ra mendapati seorang rakyatnya sedang teler, mabuk, akibat minuman keras. Karena meminum minuman keras dilarang di wilayah yang menjadi kekuasaannya, maka Khalifah segera menangkap yang bersangkutan untuk dijatuhi hukuman. Si teler ternyata tidak menyukai tindakan itu. Dia pun lalu mencaci maki Khalifah dengan mengucapkan kata-kata kotor yang tak pantas diucapkan kepada seorang pemimpin. Setelah dicaki maki, Umar bukannya memarahi yang bersangkutan, tapi dia malahan melepaskan tangan si pemabuk itu dan bergegas meninggalkannya.

Seseorang yang kebetulan melihat kejadian itu lalu bertanya kepada Khalifah,

“Ya Amirul Mukminin, kenapa engkau melepas si pemabuk itu setelah dicaci maki oleh dia?”

Umar menjawab, “ Aku melepas dan segera meninggalkan dia karena dia telah membuatku marah. Andai aku tetap menghukumnya berarti amarahku telah menguasai jiwaku. Aku tak ingin jika aku memukul seorang muslim, terdapat unsur nafsuku di dalamnya!”

Dalam riwayat yang lain diceritakan bahwa seorang sahabat Baginda Rasulullah saw urung membunuh lawannya dalam sebuah peperangan melawan orang-orang kafir setelah kafirun itu terdesak lalu meludahi wajah sahabat Baginda itu. Air ludah itu tentu saja dapat memicu kemarahan, tetapi musuhnya itu dia tinggalkan begitu saja.

“Aku khawatir, jika kemarahankulah yang melandasi peperanganku dengan dia.” begitu ujarnya santun.

Dua riwayat yang berbeda tentang meredam marah ini mengingatkan kita betapa orang-orang yang layak dihormati justru berusaha untuk menahan marahnya ketika mereka dipermalui. Mereka tidak membalas kemarahan, penghinaan, dengan kemarahan lagi, padahal ada peluang lebih besar untuk membalas.

Pada dasarnya sifat marah itu dimiliki setiap orang, siapapun dia, dan apapun agama atau kepercayaannya, dan di mana pun dia bertempat tinggal.

Kita selalu diingatkan bahwa marah itu dari setan. Kemarahan menjadi api setan yang membakar dalam hati orang yang marah. Api itu akan membakar kemuliaan dan kehormatan diri. Api kemarahan yang kian membesar akan membakar tutup rahasia yang ada pada diri sehingga aib pun menjadi tampak dengan jelas. Bukankah karena marah, seseorang dengan mudahnya mencaci maki, melakukan tindak kekerasan, bahkan dapat sampai membunuh, yang jelas-jelas tidak dibenarkan dalam ajaran Islam?

Dalam hidup bermasyarakat, memang sering tak terelakkan kejadian di mana seseorang melakukan kejahatan, disengaja maupun tidak.

Al-Qur’an (QS 41:34) mengingatkan manusia untuk memperlakukan perbuatan buruk orang dengan cara yang lebih baik (bijaksana). Manusia disuruh membalas perlakuan buruk dengan cara bijaksana, lebih baik, bukan dengan perlakuan yang sama, apalagi yang lebih buruk.

Dalam menghadapi perlakuan orang tak seimanpun, diingatkanNya agar tidak mencaci maki sembahan mereka, agar mereka tidak mencaci maki Allah.

Banyak orang selalu berulah yang memancing emosi mereka yang tak seiman. Akhir-akhir ini apa yang difirmankanNya itu kian nyata terjadi.

Siapapun dia yang melihat 12 karikatur Nabi Muhammad saw di Jyllands-Posten, koran Denmark, dan kemudian dimuat ulang oleh sejumlah media massa di Eropah, akan terpancing emosinya melihat Rasulullah saw digambarkan begitu bengisnya . Siapa pun yang melihat sejumlah foto-foto prilaku biadab tentara Amerika Serikat terhadap tawanan mereka orang-orang Irak, akan timbul rasa marah, kebenciannya, kepada tentara negara yang katanya menjunjung tinggi HAM itu. Namun haruskah kemarahan itu dilampiaskan dengan perlakuan yang sama atau mungkin lebih biadab lagi, padahal Dia sudah mengingatkan agar tidak membalas kejahatan dengan kejahatan lagi?

Kemarahan sering tak membawa penyelesaian yang baik terhadap suatu masalah.

Rasulullah saw mengingatkan umatnya untuk tidak marah. “ Jangan marah; jangan marah; jangan marah”, sabda Baginda. Baginda mengajak kita berpikir sebelum berbuat dan mengingatkan kita untuk selalu berlaku bijaksana.

Memang tak layak pula berpangku tangan ketika simbol-simbol agama dilecehkan mereka yang tak seiman. Namun demikian tetaplah perlu berlaku santun, bijaksana, dalam menghadapi hal-hal seperti ini atau yang lainnya. Kapan-pun, sekali lagi : kapan pun, sejumlah orang akan selalu membuat ulah dengan sekian banyak dalih pembenaran.

Gubernur boleh marah; ketua DPRD boleh marah; walikota boleh saja marah. Siapa pun boleh-boleh saja marah, tak dilarang kok, tetapi perlu hendaknya berhati-hati dan selalu sadar, agar kemarahan tersebut tidak dipicu oleh nafsu.

Kekuatan seseorang itu tidak diperagakan lewat kemampuannya berkelahi, lewat tindak kekerasan, tetapi terletak pada kemampuannya untuk mengendalikan diri saat marah.

Biasakanlah untuk selalu menghisab diri, antara lain berupaya untuk meredam, mendeteksi sumber-sumber kemarahan dan kemudian berusaha mengendalikannya. Meredam kemarahan dapat dilakukan diantaranya dengan melihat sisi sisi lain dari setiap kejadian menimpa diri yang memicu kemarahan.

Boleh marah kapan saja, tetapi marahlah karena Allah swt, bukan karena kebencian, bukan karena nafsu yang mengarah ke kejahatan. (AH270206)

Rabu 15 Pebruari 2006, Pansus IV DPRD Kalbar mengadakan Public Hearing (supaya gampang diingat, singkat saja dengan Puring) dengan stakeholders dalam rangka mendapatkan masukan mengenai pembahasan materi Raperda tentang Pembentukan Perusahaan Daerah Air Minum Propinsi Kalimantan Barat. Stakeholders yang diundang dalam Puring itu adalah pihak perusahaan daerah, organisasi / LSM, akademisi serta tokoh masyarakat. Saya pribadi ikut diundang, tetapi karena baru pulang dari Bandung Kamis 16 Pebruari 2006 sore, tentu saja tidak dapat mengikuti Puring yang sangat menarik itu. Melalui tulisan ini perkenankan Saya mengucapkan terima kasih kepada DPRD Kalbar umumnya, dan kepada Ketuanya, Bapak Ir. H. Zulfadhli, serta Pansus IV khususnya. Sebagai ganti ketidakhadiran tersebut, saya mencoba menulis opini singkat ini, dengan harapan ada manfaatnya.

Saya belum mengetahui dengan jelas tentang latar belakang munculnya Raperda ini, dan kenapa pula Raperda ini tampaknya penting untuk segera dibahas.

Pertanyaan yang muncul dalam benak Saya : Sudah sedemikian urgennyakah PDAM Propinsi dibentuk dengan di-Perda-kan? Apakah memang tak ada jalan / upaya lain dalam rangka meningkatkan pelayanan kebutuhan masyarakat dalam bidang air bersih, memelihara kelestarian mata air yang ada dan memanfaatkannya bagi kepentingan masyarakat; untuk meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD), dan sarana pengembangan perekonomian daerah?

Untuk menjawab kedua pertanyaan ini ada baiknya dikaji sedikit tentang awal keberadaan PDAM dan permasalahan yang dihadapi oleh perusahaan daerah ini.

Awal Keberadaan dan Permasalahan PDAM

Sebagaimana dimaklumi, pada awal-awal keberadaannya, PDAM di Indonesia umumnya, termasuk PDAM se Kalbar, terutama dibentuk dan beroperasi dalam upaya memenuhi kebutuhan masyarakat akan air bersih. Pemerintah memang bertanggung jawab untuk menyediakan air bersih bagi kepentingan masyarakat dan industri. Jadi sifat sosial dari pembentukan PDAM lebih dikedepankan daripada sifat bisnisnya.

Pemerintah ketika itu memberikan subsidi bagi keperluan Operasional dan perawatan (Maintenance), disingkat OM, pengadaan air bersih, baik langsung kepada PDAM maupun melalui departemen / instansi teknis terkait, antara lain melalui Departemen Pekerjaan Umum dan atau melalui proyek air bersih. Dana OM maupun pengembangan PDAM sebagian besar berasal dari pemerintah pusat; pendanaan dari pemerintah daerah sangat kecil. PDAM Kota Pontianak saja, sepengetahuan Saya, sampai tahun 2002, tidak pernah mendapatkan penyertaan modal dari Pemerintah Kota Pontianak dalam pengelolaannya.

Baik PDAM maupun konsumennya mendapat subsidi dari pemerintah. Air dijual dengan harga jauh di bawah ongkos produksi per meter kubiknya. Masyarakat sampai saat ini menjadi sudah terbiasa memperoleh air dengan harga relatif murah. Pegawai PDAM pun sudah pula terbiasa bekerja sebagaimana pola bekerjanya pegawai negeri sipil (PNS) , mengingat peraturan kepegawaian PDAM boleh dikatakan sama dengan peraturan kepegawaian PNS.

Seiring dengan perkembangan pembangunan di daerah dan keuangan pemerintah yang kian sulit, PDAM pun menerima dampak negatifnya. Sejumlah permasalahan kian mendera perusahaan ini, terus bermunculan ke permukaan, terlebih dalam era kebebasan pers saat ini. PDAM kemudian dikembangkan sebagian dengan pinjaman /hutang. Secara nasional hutang PDAM mencapai Rp 5,3 triliun pada tahun 2004. PDAM Kota Pontianak dan beberapa PDAM lainnya di daerah Kalbar ikut-ikutan menanggung hutang yang jumlahnya kian membengkak, karena tak mampu mengembalikan sesuai perjanjian. Hutang yang tak dibayar berubah menjadi pinjaman baru.

Kinerja PDAM kini pada umumnya dikatakan belum memenuhi standar. Mayoritas PDAM dalam keadaan “sakit”, mulai dari sakit ringan sampai sakit yang teramat berat. Perusahaan merugi, meskipun sebagian karyawannya-seperti juga beberapa perusahaan negara / daerah lainnya, dikatakan hidup mewah. Masih ingat bukan dengan kasus penyimpangan yang terjadi di salah satu PDAM di daerah Kalbar?

Selanjutnya kualitas air baku PDAM di daerah Kalbar pun kian menurun dari hari ke hari. Sumber air baku di sungai kian cepat terintrusi air laut, ditengarai sebagai dampak negatif dari pembabatan hutan yang kurang kontrol. Kualitas air baku juga menurun sebagai akibat dari penambangan tanpa izin dan peternakan. Sebagai akibatnya, ongkos produksi air bersih dan perawatan , OM, menjadi meningkat, yang dipicu pula oleh naiknya harga bahan kimia, BBM, Listrik dan peralatan. Tingkat pelayanan pun menjadi menurun.

Masalah lain yang muncul adalah tingginya tingkat kebocoran. Hal ini terjadi antara karena ulah sebagian masyarakat / konsumen dan karyawan PDAM itu sendiri, disamping karena pipa-pipa induk yang termakan usia.

Sudah Perlukah PDAM Propinsi?

Sehubungan dengan permasalahan yang dihadapinya, memang ada pendapat yang mengatakan bahwa sudah seharusnya pihak PDAM kota dan kabupaten menyatukan pengelolaan airnya, sehingga diperoleh minimum manajemen dan optimum dalam segi pelayanan.

Ide penyatuan pengelolaan PDAM tampaknya lebih tepat untuk kabupaten / kota yang padat penduduk dengan pelanggan kategori industri cukup besar.

Menuruti Direktori Perpamsi tahun 2000, konsumen air bersih yang paling banyak di daerah Kalbar adalah rumah tangga ( 75.853 dari total pelanggan 88.064). Sedangkan yang masuk kategori industri hanyalah 9.088. Kita tahu pula bahwa tingkat kepadatan penduduk di daerah Kalbar masih rendah, terkecuali di Kota Pontianak.

Memperhatikan hal-hal ini pembentukan PDAM Propinsi tampaknya masih perlu dipertimbangkan lagi, masih membutuhkan kajian awal yang jebih jelas.

Langkah awal yang lebih diperlukan Pemerintah Propinsi Kalbar dalam hal air bersih ini adalah : Mengadakan pre feasibility study, termasuk melakukan proses diagnosis permasalahan PDAM sehingga sumber permasalahan yang dialami secara regional dapat dirincikan lebih jelas, dilanjutkan kemudian dengan feasibility study pembentukannya. Seraya menunggu hasil study, maka tak ada salahnya pemerintah propinsi melakukan langkah menyertakan investasi baik untuk meningkatkan debit air ke konsumen maupun untuk memperluas jangkaun pelayanan.

Pengkajian awal ini diperlukan sebagai bagian manajemen infrastruktur yang saat ini kian berkembang.

Kesalahan langkah yang dilakukan malahan dapat mengakibatkan beban Pemerintah Propinsi kian berat, harus mensubsidi terus-terusan PDAM Propinsi, bukan peningkatan PAD sebagaimana yang diharapkan. Sejarah mencatat bahwa cukup banyak pembangunan di dunia, termasuk di daerah Kalbar, ternyata gagal karena tidak menerapkan manajemen infrastruktur dalam pembangunan.

Saya khawatir juga, apabila tak ada kajian yang mendasarinya, sekian tahun kemudian-ketika mereka yang menerimanya saat ini mungkin hanay tinggal namanya saja – ada Puring DPRD Kalbar untuk membubarkan PDAM Propinsi, karena terus-terusan menyedot dana APBD. (AH260206)

Kokok Ayam, berdasarkan zodiac / kalender Cina, akan menghilang pada 28 Januari 2006 tengah malam dan digantikan dengan salakan ataupun gonggongan Anjing berunsur Api selama setahun ke depan. Ayam menghilang di bumi Kalbar dengan gejala meninggalkan harga “telur”nya yang melonjak. Mungkin ia ingin berpesan agar siapapun jangan terlalu rakus makan telur; atau mungkin juga mengingatkan agar siapapun perlu menghargai jerih payahnya selama setahun, setelah capek mengais sana mengais sini mencari rezeki, setelah “lelah” sibuk mematuk-matuk ke sana ke sini, mengepak-ngepakkan sayap, dan setelah “terbang” kesana terbang ke-sini; ataupun setelah bertahan menangkis serangan- isu atau pun nyata- penyakit flu burung.

Kata sejumlah peramal sih dalam Tahun Anjing Api ini, keadaan berbagai bidang relatif lebih aman dibandingkan dengan keadaan dalam Tahun Ayam. Namun demikian bagi Anda yang kepingin sukses selama setahun ke depan, ada baiknya menggunakan trik-trik di bawah ini, boleh percaya boleh pula tidak; boleh serius dan boleh pula main-main; yang penting happy.

Sebelum itu perhatikan dulu kelompok posisi Anda tahun ini, apakah orang biasa yang belum dikenal, “kaki tangan”, manager ataukah bos. Ingat! “Bos tuh bukan manager”, demikian kata ahli manajemen.

Anda yang termasuk kelompok masih bebas murni maupun bebas terbatas dalam suatu “kandang”, jika ingin terkenal dalam tahun ini, gunakanlah trik “menyalak” atau “menggonggong”, tapi jangan melolong, meskipun keduanya itu terkesan menakutkan. Dengan menggonggong, jika nasib baik berpihak pada Anda, Anda pun akan dilirik, bahkan ditakuti.

Sebaliknya jika nasib jelek, siap-siap sajalah “dilempari batu”, dikejar pakai “kayu”, atau yang lebih ekstrim lagi diberi “umpan racun”.

Nah, kalau nasib anda mujur, rezeki berlimpah, tapi masih dalam posisi lemah, sebaiknya jangan melawan orang yang berkuasa, agar tidak seperti “Anjing menyalak di ekor gajah”. Juga jangan rakus, bagaikan anjing menggonggong tulang. Kalau masih dalam posisi lemah, meskipun beramai, sebaiknya jangan memusuhi yang kuat, karena kurang manafaatnya, bak kata pepatah walau seribu anjing menyalak, gunung takkan runtuh.

Anda yang termasuk kategori kaki tangan, dalam setahun ke depan ini, nasib Anda akan sangat tergantung kepada manager atau pun bos. Karena itu guna trik: diam tapi tetap menjulurkan lidah. Berbuat jasalah kepada bos atau manajer dengan trik “menyalak” kepada siapa pun yang datang ke rumah bos.

Anda yang bos, termasuk pejabat, jika menginginkan aman-aman saja selama setahun ini, gunakan “rantai” untuk mengikat anak-buah.

Jangan lupa menggunakan jenis anjing penjaga dan memasang tulisan “Awas! Ada Anjing galak”, di pagar depan rumah Anda. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari kedatangan tamu yang membawa proposal, kalender amal, lis penyumbang “pihak ketiga”, atau yang sejenis. Anjing penjaga ditengarai dapat mengalahkan makhluk lain yang 5 sampai 6 kali lebih besar darinya, menjadi sangat liar ketika berada dalam bahaya, tapi sama sekali tidak membahayakan Anda sebagai pemiliknya. Juga jenis anjing ini saat menghadapi ancaman, ia mempertaruhkan nyawa demi keselamatan Anda dan dalam keadaan bagaimanapun ia tak akan menelantarkan Anda bagaikan nasib korban musibah bencana alam yang ditelantarkan pemerintah daerah setempat. Namun setahun ini Anda perlu berhati-hati, karena banyak pihak yang dapat mendengar suara Anda dari kejauhan, dengan kepekaan penciuman yang tinggi, dan yang dapat melihat dalam kegelapan.

Mereka mampu “mencium” dan mengikuti jejak meskipun Anda berada berkilo-kilo meter jauhnya. Satu endusan terhadap barang milik Anda telah cukup bagi mereka untuk melacak dan menemukan Anda, tetapi jika nasib baik, setahun ini Anda akan mendapat rezeki lumayan banyak tanpa mengeluarkan keringat. Jika “kepanasan” karena “serangan” pihak lain, Anda gunakan saja trik menjulurkan lidah. Dengan demikian Anda dapat lari ke sana ke sini tanpa berkeringat. Jika memiliki perusahaan, tahun ini dapat Anda gunakan untuk melatih kaki tangan secara rutin, agar kualitas mereka meningkat serta menurut perintah Anda.

Disamping trik trik di atas, siapapun Anda, gunakanlah trik sukses dalam Tahun Anjing Api berikut ini : belajar mendengarkan; menyendiri sebelum membuat keputusan- termasuk keputusan untuk melego tanah di lokasi strategis; anjing menggonggong kapilah jalan terus; menggonggong tulang; makan muntah, dan trik melepaskan jepitan serta berani penyambut perubahan.

Namun demikian berhati-hatilah ketika berada di halaman rumah orang, di dalam mobil / bak truk, di taman atau di jalanan, termasuk di trotoir; juga jangan membawa “tulang”. Di tempat-tempat tersebut, jika tak hati-hati, Anda ataupun tulang yang dibawa akan “diterkam” oleh “sang pengawal” bos.

Semoga Anda sukses dengan menerapkan trik-trik sederhana ini.
Akhir kata diucapkan : Gong Xi Fa Choi untuk semua yang merayakan hari Imlek. Semoga dalam Tahun Anjing Api ini menjadi tahun yang lebih baik dari Tahun Ayam.

(AH260106)