Salah satu kepercayaan yang sampai kini masih dianut oleh (melekat dalam diri) sebagian umat Islam di tanah air, termasuk di daerah Kalimantan Barat (Kalbar) adalah tentang bulan Sapar yang diklaim sebagai bulan naas, bulan yang penuh kesialan. Klaim itu diantaranya dengan alasan bahwa kata Sapar berarti sejenis penyakit di dalam perut berbentuk ulat besar yang dapat membunuh.
Kepercayaan ini, berdasarkan beberapa sumber bacaan, sebenarnya sudah ada sejak zaman Jahiliyah. Ketika itu mereka menganggap bulan Sapar sebagai bulan yang sarat dengan kejelekan. Disamping itu mereka juga menganggap Rabu sebagai hari nahas, terlebih Rabu terakhir setiap bulan.
Mengapa Rabu terakhir bulan Sapar dianggap sial?
Menurut referensi klasik, bahwa Allah menurunkan 3333 penyakit pada bulan Sapar, dan hal itu bertepatan dengan Rabu terakhir. Bahkan, menurut Bapak H.Imam Supangat dalam Majelis Pengajian Salam Sabtu 26 Maret 2005 di Aula Masjid Raya Mujahidin Pontianak, pernah ada selebaran bohong yang mengaku dikutip dalam kitab Az-Zawajir karangan Ibnu Hajar al-Haitami, yang berisikan bahwa setiap Rabu akhir bulan Sapar turun 320.000 bala (penyakit). Sayangnya kepercayaan tentang Sapar sebagai bulan naas dan Rabu akhirnya sebagai hari naas sudah berlaku turun temurun sampai kini. Entah kapan kepercayaan ini akan sirna.
Dalam pandangan sebagian orang, Rabu terakhir bulan Sapar sangat menakutkan, penuh naas. Oleh karena itu tak heran jika kemudian ada orang yang melarang semua anggota keluarganya bepergian pada hari Rabu; pada hari itu cukup berdiam diri saja di rumah. Pada hari Rabu terakhir bulan Sapar mereka suruh / ajak keluarganya melakukan upara “buang-buang”, sebagai perwujudan dari buang naas atau buang sial.
Berkaitan dengan hal yang berbau tahayul ataupun mistik, termasuk kepercayaan tentang bulan Sapar dan hari Rabu itu, Nabi Muhammad saw ditulis pernah berdebat dengan orang Badui.
“Tidak ada penyakit menular dan tidak ada kepercayaan pada tahayul,” sabda Nabi Muhammad saw.
Badui berkata, “Lantas, bagaimana dengan unta yang sehat, kemudian sakit setelah didekati unta yang sakit?”
Nabi balas menjawab, “Lalu siapa yang menulari unta pertama?”
Perdebatan ini mengindikasikan bahwa kepercayaan seperti itu tidak ada dan tidak dibenarkan adanya menurut pandangan Islam.
Dalam HR al-Bukhari dan Muslim Rasul bersabda yang artinya “Tidak ada ‘adwa, thiyarah, hamah dan Sapar”.
Adapun ‘Adwa maksudnya penjangkitan atau penularan penyakit; Thiyarah yaitu merasa bernasib sial atau meramal nasib buruk karena melihat burung, binatang lainnya, atau apa saja, sedangkan Hamah maksudnya burung hantu, dan Sapar adalah bulan kedua dalam tahun Hijriyah, yaitu bulan sesudah Muharram.
Orang-orang jahiliyah beranggapan bahwa bulan Sapar itu membawa nasib sial atau tidak menguntungkan. Yang demikian dinyatakan tidak ada oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Termasuk dalam anggapan seperti ini adalah merasa bahwa hari Rabu mendatangkan sial, dll. Hal ini termasuk jenis thiyarah, dilarang dalam Islam.
Dalam al-Qur’an surah ke-7, al-A’raf, ayat 131 Allah swt berfirman :
……, WA MAN (M)-MA’AHU ALAA INNAMAA THAA-IRUHUM ‘INDALLAAHI WA LAAKINNA AKTSARAHUM LAA YA’ LAMUUN(A).
“Ketahuilah sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan dari mereka tidak mengetahui.”
Selanjutnya dalam surah ke-36,Yaasiin, ayat 19, Allah swt berfirman :
QAALUU THAA-IRUKUM-MA’AKUM A-INDZUKKIRTUM BAL ANTUM QAWMUN(M)-MUSRIFUUN(A).
“Mereka (para Rasul) berkata: “Kesialan / Kemalangan kamu itu adalah karena kamu sendiri. Apakah jika kamu diberi peringatan (kamu bernasib sial?). Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampaui batas.”.”
Dua Firman Allah swt di atas menunjukkan bahwa pada dasarnya musibah, naas, kecelakaan atau kemalangan itu sudah merupakan ketetapan Allah serta sebagai akibat dari perbuatan manusia sendiri: dirinya sendiri atau karena orang lain, juga karena proses yang terjadi di bumi / alam raya.
Islam tidak mengenal adanya hari atau bulan nahas, celaka, sial, malang dan yang sejenis. Yang ada hanyalah bahwa setiap hari dan atau bulan itu baik, bahkab dikenal hari mulai (Jum’at) dan bulan mulia (seperti bulan Ramadan, Syawal dan Dzulhijjah).
Dalam upaya meningkatkan keislaman, khususnya keimanan dan ketakwaan kita, kiranya perlu diyakini bahwa tidak ada hari atau bulan naas atau yang sejenisnya, yang adalah takdir yang dapat terjadi kapan saja, termasuk pada hari Rabu atau pada bulan Sapar. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari takdirNya.
Semuanya itu ada tujuan dan manfaatnya. Takdir Allah bukanlah harga mati, sebagaimana diasumsikan sebagian orang selama ini. Takdir masih bisa “ditawar”, tergantung bagaimana kita “merayu” Allah berdasarkan petunjukNya melalui al-Qur’an dan al-Hadis, antara lain dengan cara menjadikanNya sebagai Maula / Penolong, seraya berdoa agar dapat mengetuk pintu rahmat-Nya. Adapun merayakan Robo’-Robo’ pada Rabu terakhir bulan Sapar dengan berziarah, yasinan dan membaca tolak bala, tentu tak ada salahnya.
H. Abdul Hamid